KIAMAT SUDAH DEKAT

Ust Yusuf Mansur

4:00 pagi kita bangun solat subuh, kemudian kita bersiap2 utk ke tempat
kerja, sampai kantor pukul 7:00 pagi, hari masih gelap.
Mungkin kita anggap hari ini akan hujan, jadi abaikan.
Masuk kantor, bekerja dan kita lihat pukul 12:00 siang, sudah waktunya
makan siang, tapi keadaan masih tetap gelap.

Keluar pintu kantor, suasana masih gelap, hitam pekat seperti
malam..mungkin masih bisa dianggap hari ini akan hujan lagi.
Jadi abaikan saja.

NGAJINYA SAJA PALING NYUNNAH, PASTI MASUK JANNAH

Sobat! Iblis tuh sudah tuwuk alias kenyang dengan pengalaman dalam hal goda
menggoda manusia, dari para nabi hingga orang paling bodoh semua penah
digoda. Dari zaman kuno sampai zaman kini, Iblis adalah inisiator, inovator
dan motifator kesesatan, jadi jangan pernah anda merasa lebih pengalaman
dibanding Iblis, sampai sampai anda merasa aman alias pasti selamat dari
perangkap Iblis.

Bukan hanya kakek anda yang pernah di goda, bahkan sampaipun nabi Adam dan
Ibu Hawwa alaihimassalam sudah digoda oleh Iblis.

Belajarlah adab terlebih dahulu baru engkau belajar Ilmu

Oleh : Hisyam Al - Aslamiy

----------------------------------------------

Saudaraku..! Hendaklah Engkau perhatikan terlebih dahulu bahwa salah satu
Prinsip orang-orang shalih terdahulu adalah mereka mempelajari adab, sopan
santun dan tata krama, sebelum/sebagaimana mereka mempelajari ilmu.

Mereka sangat mendorong murid mereka untuk mengetahui adab sebelum
mengajarkan ilmu.

Adab-adab tersebut meliputi adab kepada diri sendiri, keluarga, kepada
guru, teman-teman dan sahabat serta adab kepada masyarakat.

UMAT AKHIR JAMAN



سيأتى على امتى زمان يحبون الخمس وينسون الخمس يحبون الدنيا وينسون الآخرة
يحبون الحيوة وينسون الموت يحبون القصور وينسون القبور يحبون المال وينسون
الحساب يحبون الخلق وينسون الخالق

Akan datang suatu masa pada umatku, dimana mereka mencintai 5 perkara dan
lupa terhadap 5 perkara; pertama: mereka cinta dunia dan melupakan akhirat,
kedua :mereka cinta hidup dan melupakan kematian, ketiga: mereka cinta
bangunan-bangunan mewah dan melupakan kubur, keempat mereka cinta kepada
harta dan melupakan hisab, kelima mereka cinta kepada makhluk dan melupakan
Pencipta.

DALIL AL-QUR'AN & HADITS TENTANG KEUTAMAAN MENGHAFAL AL-QUR'AN

Dirangkum dari beberapa ayat qur'an & hadits oleh:
Syekh Shohibul Faroji Azmatkhan Al-Hafizh
(Syekh Mufti Kesultanan Palembang Darussalam)

DALIL QUR'AN TENTANG KEUTAMAAN AL-QUR'AN
(1) “Sesungguhnya orang-orang yang selalu membaca kitab Allah (Al Qur’an) dan mendirikan salat dan menafkahkan sebahagian dari rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka dengan diam-diam dan terang-terangan, mereka itu mengharapkan perniagaan yang tidak akan merugi, agar Allah menyempurnakan kepada mereka pahala mereka dan menambah kepada mereka dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Pengampun lagi Maha Mensyukuri.” (QS. Fathir: 29-30.

(2) Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Rabb-mu (Al Quran) (QS. Al Kahfi : 27).

(3) Dan firman-Nya: Bacalah apa yang telah diwahyukan kepadamu, yaitu Al-Kitab (Al Quran)… (QS. Al Ankabut : 45).

Kebaikan yang Tidak Baik


Sebagaimana telah kita maklumi bahwa Allah Swt. tidak akan menerima begitu
saja pengakuan akan keimanan dan keislaman seseorang sebelum diuji
konsistensi dan komitmennya. Salah satu bentuk ujian itu berasal dari
potensi diri sendiri berupa ananiyyah (keakuan). Kata ananiah berasal dari
bahasa Arabana (أنا) yang berarti saya atau aku.Ananiah dapat dikategorikan
sebagai sifat tercela apabila mendorong seseorang kepada membanggakan diri
sendiri (‘ujub) atau  mengganggap orang lain hina dan rendah (tahqiir).
Sehubungan dengan itu, Nabi saw. Bersabda:

ثَلَاثٌ مُهْلِكَاتٌ شُحٌّ مُطَاعٌ وَهَوًى مُتَّبَعٌ وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ 
بِنَفْسِهِ

“Tiga perkara yang membinasakan, rasa pelit yang ditaati, hawa nafsu yang
diikui dan ujubnya seseorang terhadap dirinya sendiri.” HR. Al-Baihaqi dan
At-Thabrani dengan sedikit perbedaan redaksi. Redaksi di atas versi
al-Baihaqi.[1]

Dalam hadis lain, Nabi saw. bersabda:

لَوْ لَمْ تَكُوْنُوا تُذْنِبُوْنَ خَشِيْتُ عَلَيْكُمْ مَا هُوَ أَكْبَرُ 
مِنْ ذَلِكَ الْعُجْبَ الْعُجْبَ

“Sekiranya kalian tidak berdosa, niscaya aku takut kalian ditimpa dengan
perkara yang lebih besar darinya (yaitu) ujub ! ujub!” HR. Al-Baihaqi. [2]
Sehubungan dengan sabda itu, Imam Al-Munaawi berkata :

كَرَّرَهُ زِيَادَةً فِي التَّنْفِيْرِ وَمُبَالَغَةً فِي التَّحْذِيْرِ، 
وَذَلِكَ لِأَنَّ الْعَاصِي يَعْتَرِفُ بِنَقْصِهِ فَيُرْجَى لَهُ التَّوْبَةُ 
وَالْمُعْجَبُ مَغْرُوْرٌ بِعَمَلِهِ فَتَوْبَتُهُ بَعِيْدَةٌ

“Rasulullah saw. mengulang-ulangnya (kata ujub) sebagai tambahan
(penekanan) untuk menjauhkan (umatnya) dan mempersangat untuk mengingatkan
(umatnya). Demikian itu karena pelaku maksiat yang mengakui kekurangannya
masih diharapkan ia akan bertaubat, adapun orang yang ujub maka ia
terpedaya dengan amalannya, hingga sulit baginya untuk bertaubat.” [3]
Ibnu Mas’ud Ra. berkata :

الْهَلاَكُ فِي اثْنَيْنِ الْقُنُوْطُ وَالْعُجْبُ

“Kebinasaan pada dua perkara: putus asa dan ujub”

Sehubungan dengan perkataan di atas, Imam Al-Munaawi berkata, “Ibnu Mas’ud
menyatukan dua perkara ini karena orang yang putus asa tidak akan mencari
kebahagiaan sebab dia sudah putus asa, begitu pula orang yang ujub tidak
akan mencari-cari kebahagiaan karena dia menyangka bahwa ia telah
meraihnya.” [4]

Di sini dapat disebutkan contoh tiga bentuk ananiyyah (keakuan) yang dapat
merusak kemuliaan orang beriman hingga menjadikan dirinya binasa:

Pertama, merasa dirinya sebagai ‘orang baik’

Dalam hal ini, Ummul Mukminin Aisyah Ra., telah mengingatkan kita, ketika
beliau ditanya:

 مَتَى يَكُوْنُ الرَّجُلُ مُسِيْأً

“Kapan seseorang dikatakan buruk?” Maka beliau berkata:

 إِذَا ظَنَّ أَنَّهُ مُحْسِنٌ

“Jika ia menyangka bahwa ia adalah orang baik.” [5]

Nasehat di atas hendak mengingatkan kita bahwa “menilai diri sendiri
sebagai seorang baik” akan menjadi pintu awal malapetaka yang menimpa
seorang mukmin, karena akibat lanjutan dari itu  dia pun akan merendahkan
orang lain, merasa serba sempurna sehingga menghalangi dirinya untuk terus
memperbaiki segala keburukan, kesalahan, serta berbagai kekurangan dalam
menunaikan kebaikan.

Kedua, merasa dirinya ‘sudah berilmu’

Dalam hal ini, Fudhail bin ‘Iyadh telah mengingatkan kita, ketika beliau
ditanya oleh Ibrahim tentang tawadhu’. Beliau menjawab:

أن تخضع للحق وتنقاد له ولو سمعته من صبي قبلته منه ولو سمعته من أجهل الناس 
قبلته منه

“Engkau tunduk dan patuh pada kebenaran, meskipun engkau mendengarnya dari
seorang anak kecil; (ketika engkau mendapati ia menyampaikan kebenaran),
maka engkau menerima kebenaran tersebut darinya. Meskipun engkau
mendengarnya dari manusia yang paling bodoh; (ketika engkau mendapati ia
menyampaikan kebenaran), maka engkau menerima kebenaran tersebut
darinya.” [6]

Nasehat di atas hendak mengingatkan kita bahwa “menilai diri sendiri
sebagai orang yang telah berimu” akan menjadi penghambat meningkatnya ilmu;
menolak  nasehat, masukan, saran atau kritik dari saudara kita, meski yang
disampaikannya tersebut benar, karena kita menilai level keilmuannya
mungkin lebih rendah dari kita.

Ketiga, merasa dirinya ‘sudah beramal dengan sempurna’

Sehubungan dengan itu, nasehat Bisyr Al-Haafi layak kita cermati, ketika
amalnya dikagumi seseorang, ia berkata kepadanya :

لاَ يَغُرَنَّكَ مَا رَأَيْتَ مِنِّي فَإِنَّ إِبْلِيْسَ تَعَبَّدَ آلاَفَ 
سِنِيْنَ ثُمَّ صَارَ إِلَى مَا صَارَ إِلَيْهِ

“Janganlah engkau terpedaya dengan apa yang kau lihat dariku, sesungguhnya
Iblis beribadah kepada Allah ribuan tahun kemudian dia menjadi kafir kepada
Allah.”[7]

Pernyataannya di atas menunjukkan bahwa banyaknya amal yang ia lakukan
tidak lantas menjadikannya pongah. Kagumnya orang-orang pada amalnya
tidaklah menjadikannya berbangga. Bahkan ia tetap khawatir dengan dirinya,
karena dahulu iblis pun adalah makhluq yang lahiriahnya taat, tapi karena
kebusukan niatnya, hingga akhirnya Allah Swt. menampakkan hakikatnya ketika
dia diuji.

Demikian pula, seseorang akan sulit mengakui dan menghadirkan kekurangan
amal dirinya, apabila dia telah menyangka amalnya sudah sempurna, apalagi
menyangka amalnya sudah diterima, sehingga ia pun enggan memperbaiki
kualitas amalnya, bahkan menambahkan kuantitasnya.

Tulisan ini kita akhiri dengan nasehat salah seorang ulama, yang dikutip
Ibnul Qoyyim: “Sesungguhnya seorang hamba benar-benar melakukan sebuah
dosa, dan dengan dosa tersebut menyebabkan ia masuk surga. Dan seorang
hamba benar-benar melakukan sebuah kebaikan yang menyebabkannya masuk
neraka. Ia melakukan dosa dan dia senantiasa meletakkan dosa yang ia
lakukan tersebut di hadapan kedua matanya, senantiasa merasa takut,
khawatir, senantiasa menangis dan menyesal, senantiasa malu kepada
Robb-Nya, menunudukan kepalanya dihadapan Robbnya dengan hati yang luluh.
Maka jadilah dosa tersebut sebab yang mendatangkan kebahagiaan dan
keberuntungannya. Hingga dosa tersebut lebih bermanfaat baginya daripada
banyak ketaatan…Dan seorang hamba benar-benar melakukan kebaikan yang
menjadikannya senantiasa merasa telah berbuat baik kepada Robbnya dan
menjadi takabbur dengan kebaikan tersebut, memandang tinggi dirinya dan
ujub terhadap dirinya serta membanggakannya dan berkata, ‘Aku telah beramal
ini, aku telah berbuat itu.’ Maka hal itu mewariskan sifat ujub dan kibr
(takabur) pada dirinya serta sifat bangga dan sombong yang merupakan sebab
kebinasaannya…”[8]

Semoga Allah Swt. senantiasa melindungi kita dari sifat ananiyahsehingga
tidak terpedaya dan ujub dengan amal shaleh yang telah kita lakukan dan
ilmu yang telah kita raih

[1] HR. Al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman, II: 203, No. 731;
At-Thabrani, al-Mu’jam al-Awsath, V:328, No. 5452.

[2] Lihat, Syu’ab al-Iman, IX: 339, No. 6868

[3] Lihat, At-Taisiir bi Syarh Al-Jaami’ as-Shaghiir, II:606.

[4] Ibid.

[5] Ibid.

[6] Lihat, Hilyah al-Auliyaa’, VIII:91

[7] Lihat, At-Taisiir bi Syarh Al-Jaami’ as-Shaghiir, II:606.

[8] Lihat, Al-Wabil As-Shayyib, hlm. 9-10.

Obrolan Anak dan Bapaknya



Hiburan sejenak..
Obat stresss, hiburan heula

*ANAK JEUNG BAPA KEUR NGOBROL DI HAREUPEUN IMAHNA BARI NGANGIN*

*Anak*:
Pa, kumaha carana ngasupkeun gajah kana kulkas ?

*Bapa*:
Nya moal bisa... piraku gajah diasupkeun kana kulkas.

*Anak*:
Wadduuh... Bapa piraku kitu wae teu bisa...

*Bapa*:
Ari kitu sia bisa ngasupkeun gajah kana kulkas ? Kumaha   coba..?.

*Anak*:
Nyaa gampang Pa, carana Gajahna ditewak.., bukakeun panto kulkasna.., terus
asupkeun gajahna tutup kulkasna, beres...

*Bapa*:
Atah adol siah... otak nyaneh koclak... ngan kitu hungkul?

*Anak*:
Nya kitu carana ngasupkeun gajah kana kulkas. Deui nya pa.. ayeuna kumaha
carana ngasupkeun sapi kana kulkas?

*Bapa*:
Ha ha ha ha..
Tatarucingan nu kieu mah dijawab bari peureum... nya gampang.. sapina
ditewak, bukakeun kulkasna... sapina langsung diasupkeun kana kulkas terus
ditutup, kitu nya???

*Ana*:
Hahaha.. Bapa bari peureum sagala.. Salah pa teu bisa...

*Bapa*:
Geuning.. teu bisa ??

*Anak*:
Pan dijero kulkas masih aya gajah. Jadi kaluarkeun gajah tina kulkas, tewak
sapina asupkeun kana kulkas terus ditutup.

*Bapa*:
Nurustunjung ngala ka saha sia...

*Anak*:
Teruskeun nya pa.. ayeuna, lamun balap lumpat gajah lawan sapi, mana nu
tiheula nepi ka finish...???

*Bapa*:
Nya sapiiiii atuh....

*Anak*:
Hadeuh.. bapa ngajawabna tarik, tapi salah.. nya gajah nu tiheula nepi mah,
Pa...

*Bapa*:
Naha bisa kitu??

*Anak*:
Lah pan sapina masih dijero kulkas, can dikaluarkeun...

*Bapa*:
Kumaha sia lah...

*Anak*:
Hi hi hi geuning ambek....
Ulah ambek pa..
Sakali deui pa...

*Bapa*:
Naon deuiiii...??

*Anak*:
Kumaha  carana nimbang gajah bapana jeung gajah anakna supaya sarua
beuratna...??

*Bapa*:
Sia mah ngarang... gajah bapana pasti leuwih gede tibatan anakna..
Sabab bapana leuwih gede pasti bapana leuwih beurat..

*Anak*:
Tah kitu mun ngomong asal calangap teu dipikir heula.. padahal gampang.

*Bapa*:
Kumaha, coba ??

*Anak*:
Kari diphoto wae... Bapana gajah diphoto, anak gajah ge diphoto.. pas photo
ukuran 4 x 6.. Terus ditimbang.. pasti sarua....

*Bapa*:
(garo-garo teu ateul.., geregeteun)

*Anak*:
Paa...

*Bapa*:
Euy.. aya naoon..?

*Anak*:
Lamun gajah jeung sapi ngalamar gawe, saha nu ditarima..??

*Bapa*:
Teuing ah.....

*Anak*:
Bapa dibere nyaho lah. Anu ditarima gawe Gajah pa...

*Bapa*:
Naha bisa kitu... ??

*Anak*:
Berkas lamaran anu gajah lengkap aya pas photoan.
Pan tadi gajah geus diphoto ari berkas lamaran sapi teu make photo.

*Bapa*:
Ngomong deui..., dicabok sia...!!
😀😀😀😃😃😃😀